Selasa, 12 April 2011

Tugas Studi Kasus dalam Metodolgi Islam

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM II
“Studi Kasus Dalam beberapa Pandangan yang ada dalam METODOLOGI Islam”
“ Krisis Kepemimpinan ”














Tugas Mandiri

Disusun Oleh :
AHMAD KHAIRUDIN
5215097002








FAKULTAS TEKNIK
TEKNIK ELEKTRO
S1 PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRONIKA
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2011

1.      LATAR BELAKANG MASALAH
Manusia adalah makhluk social yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup, manusia selalau berinteraksi dengan sesame serta dengan lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun dalam kelompok kecil.
Hidup dalam kelompok tentulah tidak mudah. Untuk menciptakan kondisi kehidupan yang harmonis anggota kelompok haruslah saling menghormati & menghargai. Keteraturan hidup perlu selalu dijaga. Hidup yang teratur adalah impian setiap insan. Menciptakan & menjaga kehidupan yang harmonis adalah tugas manusia.
Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi dibanding makhluk Tuhan lainnya. Manusia di anugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk memilah & memilih mana yang baik & mana yang buruk. Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya mampu mengelola lingkungan dengan baik.
Tidak hanya lingkungan yang perlu dikelola dengan baik, kehidupan social manusiapun perlu dikelola dengan baik. Untuk itulah dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya yang berjiwa pemimpin, paling tidak untuk memimpin dirinya sendiri.
Dengan berjiwa pemimpin manusia akan dapat mengelola diri, kelompok & lingkungan dengan baik. Khususnya dalam penanggulangan masalah yang relatif pelik & sulit. Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan agar masalah dapat terselesaikan dengan baik.
2.      RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang masalah yang penulis uraikan, banyak permasalahan yang penulis dapatkan. Permasalahan tsb antara lain :
·         Bagaimana hakikat menjadi seorang pemimpin?
·         Kepemimpinan dilihat dari segi Agama Islam
·         Masalah kepemimpinan saat ini.
·         Studi kasus masalah kepemimpinan di tinjau dari beberapa segi metodologi beserta Solusinya




HAKIKAT KEPEMIMPINAN
Dalam kehidupan sehari – hari, baik di lingkungan keluarga, organisasi, perusahaan sampai dengan pemerintahan sering kita dengar sebutan pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan. Ketiga kata tersebut memang memiliki hubungan yang berkaitan satu dengan lainnya.
Beberapa ahli berpandapat tentang Pemimpin, beberapa diantaranya :
· Menurut Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan, Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan.
· Menurut Robert Tanembaum, Pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan perusahaan.
· Menurut Prof. Maccoby, Pemimpin pertama-tama harus seorang yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Pemimpin yang baik untuk masa kini adalah orang yang religius, dalam artian menerima kepercayaan etnis dan moral dari berbagai agama secara kumulatif, kendatipun ia sendiri mungkin menolak ketentuan gaib dan ide ketuhanan yang berlainan.
· Menurut Lao Tzu, Pemimpin yang baik adalah seorang yang membantu mengembangkan orang lain, sehingga akhirnya mereka tidak lagi memerlukan pemimpinnya itu.
· Menurut Davis and Filley, Pemimpin adalah seseorang yang menduduki suatu posisi manajemen atau seseorang yang melakukan suatu pekerjaan memimpin.
· Sedangakn menurut Pancasila, Pemimpin harus bersikap sebagai pengasuh yang mendorong, menuntun, dan membimbing asuhannya. Dengan kata lain, beberapa asas utama dari kepemimpinan Pancasila adalah :
v Ing Ngarsa Sung Tuladha : Pemimpin harus mampu dengan sifat dan perbuatannya menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan bagi orang – orang yang dipimpinnya.
v Ing Madya Mangun Karsa : Pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang – orang yang dibimbingnya.
v Tut Wuri Handayani : Pemimpin harus mampu mendorong orang – orang yang diasuhnya berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab.
Seorang pemimpin boleh berprestasi tinggi untuk dirinya sendiri, tetapi itu tidak memadai apabila ia tidak berhasil menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Dari begitu banyak definisi mengenai pemimpin, dapat penulis simpulkan bahwa : Pemimpin adalah orang yang mendapat amanah serta memiliki sifat, sikap, dan gaya yang baik untuk mengurus atau mengatur orang lain.
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Sedangkan kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mau melakukan pap yang diinginkan pihak lainnya.”The art of influencing and directing meaninsuch away to abatain their willing obedience, confidence, respect, and loyal cooperation in order to accomplish the mission”. Kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhidan menggerakkan orang – orang sedemikian rupa untuk memperoleh kepatuhan, kepercayaan, respek, dan kerjasama secara royal untuk menyelesaikan tugas – Field Manual 22-100.
KEPEMIMPINAN DILIHAT DARI SEGI AGAMA ISLAM
Menjadi pemimpin adalah amanah yang harus dilaksanakan dan dijalankan dengan baik oleh pemimpin tersebut,karena kelak Allah akan meminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya itu.
Dalam islam sudah ada aturan-aturan yang berkaitan dengan hal tersebut,diantaranya sebagai berikut:
1.       Niat yang Lurus
      Hendaklah saat menerima suatu tanggung jawab, dilandasi dengan niat sesuai dengan apa yang telah Allah perintahkan.Lalu iringi hal itu dengan mengharapkan keridhaan-Nya saja.Kepemimpinan atau jabatan adalah tanggung jawab dan beban, bukan kesempatan dan kemuliaan.

2.      Laki-Laki
      Wanita sebaiknya tidak memegang tampuk kepemimpinan.Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda,”Tidak akan beruntung kaum yang dipimpim oleh seorang wanita (Riwayat Bukhari dari Abu Bakarah Radhiyallahu’anhu).


3.      Tidak Meminta Jabatan
      Rasullullah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah Radhiyallahu’anhu,”Wahai Abdul Rahman bin samurah! Janganlah kamu meminta untuk menjadi pemimpin.Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepada kamu karena permintaan, maka kamu akan memikul tanggung jawab sendirian, dan jika kepemimpinan itu diberikan kepada kamu bukan karena permintaan, maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

4.      Berpegang pada Hukum Allah.
      Ini salah satu kewajiban utama seorang pemimpin.Allah berfirman,”Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (al-Maaidah:49).
Jika ia meninggalkan hukum Allah, maka seharusnya dicopot dari jabatannya.

5.      Memutuskan Perkara Dengan Adil
      Rasulullah bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin mempunyai perkara kecuali ia akan datang dengannya pada hari kiamat dengan kondisi terikat, entah ia akan diselamatkan oleh keadilan, atau akan dijerusmuskan oleh kezhalimannya.” (Riwayat Baihaqi dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Kabir).


6.      Tidak Menutup Diri Saat Diperlukan Rakyat.
      Hendaklah selalu membuka pintu untuk setiap pengaduan dan permasalahan rakyat.Rasulullah bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin atau pemerintah yang menutup pintunya terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinan kecuali Allah akan menutup pintu-pintu langit terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinannya.” (Riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi).

7.      Menasehati rakyat
      Rasulullah bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin yang memegang urusan kaum Muslimin lalu ia tidak bersungguh-sungguh dan tidak menasehati mereka, kecuali pemimpin itu tidak akan masuk surga bersama mereka (rakyatnya).”

8.      Tidak Menerima Hadiah
      Seorang rakyat yang memberikan hadiah kepada seorang pemimpin pasti mempunyai maksud tersembunyi, entah ingin mendekati atau mengambil hati.Oleh karena itu, hendaklah seorang pemimpin menolak pemberian hadiah dari rakyatnya.Rasulullah bersabda,” Pemberian hadiah kepada pemimpin adalah pengkhianatan.” (Riwayat Thabrani).

9.      Mencari Pemimpin yang Baik
      Rasulullah bersabda,”Tidaklah Allah mengutus seorang nabi atau menjadikan seorang khalifah kecuali ada bersama mereka itu golongan pejabat (pembantu).Yaitu pejabat yang menyuruh kepada kebaikan dan mendorongnya kesana, dan pejabat yang menyuruh kepada kemungkaran dan mendorongnya ke sana.Maka orang yang terjaga adalah orang yang dijaga oleh Allah,” (Riwayat Bukhari dari Abu said Radhiyallahu’anhu).

10.  Lemah Lembut
      Doa Rasullullah,’ Ya Allah, barangsiapa mengurus satu perkara umatku lalu ia mempersulitnya, maka persulitlah ia, dan barang siapa yang mengurus satu perkara umatku lalu ia berlemah lembut kepada mereka, maka berlemah lembutlah kepadanya.

11.  Tidak Meragukan dan Memata-matai Rakyat.
      Rasulullah bersabda,” Jika seorang pemimpin menyebarkan keraguan dalam masyarakat, ia akan merusak mereka.” (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Al-hakim).



MASALAH KEPEMIMPINAN SAAT INI.
1.      Pemimpin yang dzolim
Di era globalisasi ini, kita banyak menyaksikan pemimpin yang berperilaku sewenang-wenang, pemimpin yang doyan korupsi, pemimpin yang hobi perang, pemimpin yang gila jabatan, dan perilaku negatif lainnya. Sebagai contoh, mari kita cermati bagaimana perilaku buruk yang dipertontonkan mantan Presiden Amerika Serikat, George W. Bush. Sosok pemimpin bertangan besi, suka perang. Irak hancur lebur karena ambisi politiknya yang kejam.
Mari kita palingkan sejenak pikiran kita ke masa lalu. Perhatikan bagaimana Stalin, si raja tega dari Rusia. Ia halalkan segala cara hingga jutaan nyawa melayang di seluruh di dunia, hanya karena ambisinya untuk menegakkan panji-panji ideologi komunisme. Lihat pula bagaimana Hitler dengan Nazinya di Jerman. Kuku-kuku tajamnya menghancurleburkan ribuan umat Yahudi di Jerman. Sungguh kejam Stalin. Sungguh biadab Hitler.Lalu bagaimana untuk menyelesaikan krisis kepemimpinan seperti ini..?Kita akan membahas dari beberapa pendekatan dalam bab berikutnya.

2.      Pemimpin yang tidak adil dan amanah
            Kata-kata adil sepertinya sudah menjadi materi dari retorika politik saja. Hanya sebagai bahan kampanye dan sekedar simbol politik. Pelaksanaannya jauh dari prinsip adil dan berkeadilan itu sendiri. Plato dikenal sebagai sumber inpirasi kejayaan peradaban barat. Plato dalam “the Republic”-nya pernah menanamkan tiga prinsip keadilan dalam pelaksanaan ketatanegaraan. Pertama adalah, pemimpin harus memiliki bekal pendidikan yang memadai. Kedua, masyarakat yang beradab harus berorganisasi, termasuk organisasi pemerintahan. Ketiga, keadilan tidak hanya dalam kerangka menjalankan pemerintahan yang baik tetapi untuk tujuan hidup yang lebih tinggi yaitu untuk mencapai tingkat kebahagiaan.

            Pada dasarnya prinsip keadilan diatas adalah bagian dari fitrah manusia, tidak perduli apakah manusia tersebut anggota dari peradaban Barat, peradaban Islam atau bentuk peradaban lain. Inilah pesan universal.Bagaimana dengan prinsip keadilan dan kepemimpinan dalam Islam? Prinsip keadilan dan kepemimpinan dalam Islam berlandaskan pesan universal: “Rasulullah SAW diutus ke muka bumi ini adalah untuk membawa berkah bagi alam semesta. Rahmatan Lil ‘alamin.” Kita sebagai muslim akan menjunjung misi ini untuk membawa keberkahaan bagi alam semesta. Pesan ini sangat universal, karena tidak ada satupun manusia di muka bumi ini ingin melihat kerusakan alam semesta, tidak perduli apakah dia muslim atau tidak, semua ingin melihat alam yang lestari.

3.      Pemimpin yang Korupsi

Mari kita tengok juga pemimpin-pemimpin kita di tanah air Indonesia. Hampir setiap hari, kita disuguhi berita-berita yang mengiris-ngiris hati nurani kita. Bayangkan, banyak pemimpin kita, mulai dari bupati, gubernur, mantan menteri, politisi, dan lainnya, yang dijebloskan ke penjara, karena perilaku mereka yang bejat, seperti korupsi yang mereka lakukan hingga merugikan keuangan negara hingga miliaran rupiah. Pada saat yang bersamaan, rakyat Indonesialah yang menanggung deritanya. Sungguh biadab pemimpin-pemimpin itu. Mereka gelap mata. Hati nurani meraka sudah tertutup rapat.
Ada beberapa hal yang menyebabkan pemimpin-pemimpin di atas terperosok pada lubang kegelapan dan melakukan berbagai tindakan tidak bermoral itu. Pertama, mereka tidak memahami bahwa kepemimpinan itu sesungguhnya adalah amanah dari Tuhan. Karena itu, kepemimpinan—apa pun bentuknya—mesti harus senantiasa berpijak dan berjalan di atas norma-norma yang telah digariskan oleh Tuhan.
Kedua, mereka hanya melihat kepemimpinan sebagai cara terbaik dan tercepat untuk mencapai kekuasaan. Padahal, sebagai pemimpin seharusnya memahami bahwa pemimpin tugasnya adalah melayani rakyat, bukan semata mencapai kekuasaan. Dalam pepatah Arab disebutkan bahwa pemimpin suatu kaum sesungguhnya adalah pelayan mereka (Sayyidul qaumi khodimuhum). Ketiga, mereka hanya menjadikan jabatan sebagai ajang untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Hal ini terlihat dari banyaknya pemimpin kita yang dijebloskan ke penjara karena mereka melakukan tindak korupsi.Naudzubillah!

4.      Pemimpin yang tidak tegas
Keruwetan masalah macet, apalagi kalau ada banjir di kawasan Jakarta, seperti tidak ada upaya penyelesaian yang jitu. Persoalan ini tentunya juga menjadi 'jualan' bagi bakal calon Gubernur DKI Jakarta di dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) 2012.

            Balon Gubernur DKI Jakarta Aziz Syamsuddin, yang juga anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar, misalnya, mengatakan, persoalan keruwetan itu akibat tidak tegas dan tanggapnya pemimpin daerah.

"Gubernur ke depan harus sosok yang mempunyai ketegasan, ketepatan dan tanggap dalam menyelesaikan permasalahan yang ada, seperti banjir, kemacetan dan lain-lain," kata Aziz Syamsuddin kepada detikcom di Jakarta, Jumat (17/3/2011).
Itu bukti bahwa tidak tegasnya pemimpin merupakan masalah yang cukup serius dalam krisis kepemimpinan.


5.      Pemimpin yang tak bermoral dan Emosional
Seperti kasus yang baru terjadi di anggota DPR yang terlibat kasus nonton Video asusila saat sedang bertugas itu menunjukan pemimpin yang tak bermoral dan terlihat saat sedang sidang terlihat dan di tayangkan di televisi,itu sangat emosional dan sama sekali tidak menunjukan pemimpin yang bijaksana.


STUDI KASUS MASALAH KRISIS KEPEMIMPINAN DI TINJAU DARI BEBERAPA SEGI METODOLOGI BESERTA SOLUSINYA
1.      Di tinjau dari segi antropologis

Seperti di jelaskan . Antropologis, yaitu memahami agama dg cara melihat wujud praktek keagamaan yg tumbuh dan berkembang dlm masyarakat.
Antropologi : ilmu yg mempelajari ttg asal-usul, kepercayaan, bentuk fisik, warna kulit dan kepercayan manusia.
Melalui pendekatan ini, terlihat hubungan antara agama dengan berbagai masalah kehidupan manusia, seprti dengan etos kerja, dengan bentuk negara, dsb.

Studi Kasus yang Terjadi dalam Pandangan ini adalah, banyaknya Pemimpin yang terlihat baik dalam kesehariannya, terlihat biasa saja tapi ternyata pemimpin itu terlibat dalam kasus korupsi,suap ataupun perbuatan tercela yang tidak menunjukan bahwa dirinya adalah seorang pemimpin.

Solusinya : dari seorang pemimpin tersebut harusnya ia lebih memahami makna dari seorang pemimpin dan mengetahui apa dan bagaimana menjadi seorang pemimpin dan memperkuat keimanan serta ketaqwaan kepada Allah SWT. Dari external harusnya di terapkan budaya saling mengingatkan antara pimpinan dan karyawan atau staf di bawahnya agar terjaga dari perbuatan yang tidak mencontohkan hal buruk atau merusak makna dari kepemimpinan itu sendiri.

2.      Di tinjau dari segi Sosiologis

Sosiologis (ilmu ttg keadaan masyarakat lengkap dg struktur lapisan serta berbagai gejala sosial yg saling berkaitan).
Dgn pendekatan ini dipahami bahwa agama Islam lahir utk kepentingan sosial.
Kualitas kepemimpinan bangsa akan terlihat pada masyarakat yang marjinal, yang minoritas, yang ada di lapisan bawah; yaitu apakah mereka semakin diberdayakan untuk menjadi lebih sejahtera dan mandiri. Jika indikator ini tidak muncul, salah satu sebabnya adalah karena bangsa tersebut tidak memiliki kepemimpinan yang solid.

      Studi Kasus dalam Pandangan ini adalah ada pemimpin yang sangat berjiwa social tapi hanya terhadap golongannya sendiri, dia tidak peka terhadap keadaan atau kondisi sekitar,pemimpin itu hanya mementingkan keadaan komunitas atau golongannya.

      Solusinya adalah untuk pemimpin itu sendiri harusnya tidak hanya mementingkan diri sendiri dan hanya komunitas/golongannya saja karena pandangan sosiologis harusnya mencakup semua golongan Masyarakat baik kaum minoritas ataupun mayoritas. Dan masyarakat juga perlu adanya bentuk penolakan kebijakan dengan cara berdemo atau aksi jika ada kebijakan dari pemimpin itu yang menyimpang nilai-nilai sosiologis.


3.      Di Tinjau dari segi Historis
Melihat pemimpin bangsa saat ini, cita-cita luhur proklamasi 1945 mungkin hanya akan ada dalam impian. Pemimpin bangsa telah kehilangan hati dan otak (baca: Intelektual). Miskinnya hati nurani, terbukti dengan semakin banyaknya kasus-kasus memalukan dilakukan pejabat yang notabene pemimpin bangsa di semua lini tatanan pemerintahan, mulai dari pelecehan seksual anggota dewan hingga penyuapan jaksa. Kegagalan bangsa ini lepas dari permasalahan adalah indikator bahwa para pemimpin tidak punya kapabilitas intelektual yang cukup. Kebijakan-kebijakan yang mereka ambilpun lebih cenderung pada solusi instant terhadap permasalahan yang saat itu mereka hadapi, bukan pada penyelesaian masalah secara komprehensif. Dengan pola pikir pemimpin seperti itu, tidak mengerankan jika pemimpin lebih memilih menjual asset bangsa dari pada mencari alternatif solusi lain.
      Mengatasi Krisis Kepemimpinan Di Indonesia
Atas banyaknya permasalahan kepemimpinan dan permasalahan bangsa yang tidak kunjung henti, menyebabkan rakyat tidak lagi percaya dengan kepemimpinan di Indonesia saat ini. Hal ini disebabkan karena moral para pemimpin kita yang rendah. Rakyat tidak butuh pemimpin yang pintar dan piawai berpidato, berpendidikan tinggi sampai S3, berpangkat militer tinggi hingga Jenderal tapi kerjanya hanya menipu dan memperdayakan rakyat. Tetapi rakyat butuh pemimpin yang mendengar tangisan pilu nasibnya dan mengulurkan tangannya untuk berdiri tegak bersama-sama dalam mengatasi masalah dengan asas kejujuran dan kepercayaan serta kerendahan dan kesederhanaan. Rakyat butuh pemimpin memikirkan masa depan anak-anak bangsa. Rakyat butuh pemimpin yang berani mengambil kebijakan untuk mengkounter harga-harga bahan pokok dan menghilangkan kebijakan pengendalian harga pada kelompok tertentu, hingga harga kebutuhan pokok dapat terjangkau hingga dapat makan nasi putih yang hangat dengan sekerat tempe sudah cukup bagi mereka. 
      Menurut Barry Z. Posner kepemimpinan dan kredibilitas tergantung pada hati, bukan hanya otak. Kedua hal tersebut seharusnya ada pada setiap pemimpin bangsa ini, punya intelektualitas yang cerdas dan juga punya hati yang ikhlas untuk memimpin bangsa ini lepas dari berbagai permasalahan yang semakin kompleks. Dengan penyatuan dua hal tersebut tentunya akan mampu membentuk pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia menuju kesejakteraan umum, kecerdasan bangsa, dan keadilan sosial sesuai dengan cita-cita proklamasi kemerdekaan Indonesia yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945.




KESIMPULAN

Krisis kepemimpinan adalah sebuah masalah yang krusial. Namun ada masalah yang lebih krusial, dan sekaligus urgen, yaitu masalah ignorance. Banyak orang yang ignorant akan kebutuhan kepemimpinan diatas. Banyak orang cuek dan acuh tak acuh terhadap krisis kepemimpinan. Tanpa adanya kesadaran publik

            Tantangan yang terbesar bagi para pemerhati berbagai institusi yang disebut diatas adalah menciptakan kesadaran publik sehingga kebutuhan kepemimpinan dirasakan dan dipahami signifikansi-nya. Kita harus bangun dari tidur panjang ini. Kesadaran ini adalah sebuah langkah pertama yang harus dicapai dalam perjalanan kepemimpinan yang memakan waktu seumur hidup. Tanpa itu, perjalanan panjang tersebut tidak akan pernah dimulai.

            Kita perlu berdoa agar Allah berbelas kasih dan terus bekerja dalam hidup setiap anak-anakNya yang kerap kali mengecewakan dan melawan Dia. Kita perlu berdoa agar Ia terus menggerakkan hati mereka dan memanggil mereka untuk tampil menjawab kebutuhan jaman sebagai pemimpin-pelayan di rumah, di gereja, di universitas, di perusahaan, di masyarakat, di dunia. 

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...